Jumat, 10 Juni 2011

LAST TIME

Jakarta yang Panas, tahun 2007


“ Fotonya bernyawa”,ucapku lirih.
Kupandangi terus foto itu. Sesekali aku mengerjapkan mata. Kagum. Aku yakin fotografer yang mengambil foto siluet hitam putih itu mencurahkan seluruh perasaannya pada foto itu.

Foto yang membuatku kagum itu hanyalah foto sederhana. Foto dengan siluet wanita yang tengah membaca buku. Foto itu dibuat berefek hitam putih. Angle yang diambil sang fotografer sungguh keren. Sang fotografer mengambil foto sang wanita dari ujung sebuah kursi taman yang ada tak jauh dari tempat sang wanita duduk. Kesan yang didapat adalah wanita itu menjadi fokus utama dari keseluruhan foto itu. Seolah-olah semuanya berawal dari ujung kursi taman dan berpusat di satu tempat, ekspresi samar sang wanita ketika membaca buku. Sungguh, foto tersebut sangat indah.

“What do you think?” ucap seseorang disebelahku.

Aku tertegun memandang laki-laki di sampingku. Dia blasteran. Indo. Tinggi badannya mungkin sekitar 180 cm. Matanya hijau. Kontras dengan kulitnya yang sawo matang. Rambutnya hitam agak kecokelatan. Wajahnya juga postur tubuhnya jelas menampakkan perawakan ras Arya. Sungguh perpaduan yang unik.

“ hmm… are you the one who taking this picture?”. Aku memandang laki-laki itu penasaran. Dia tersenyum ramah kepadaku dan kembali memandangi foto di depannya. Laki-laki yang aneh, pikirku.

“ Apa yang kamu suka dari foto ini?” Tanya laki-laki itu lagi.
“hmm…kamu bicara sama saya?” Tanyaku bodoh.

Dia tertawa tertahan. Anggukan kepalanya sudah cukup memberikan jawaban pertanyaanku kepada dia.

“ Fotonya bernyawa. Fotografernya kayaknya mencurahkan seluruh perasaannya di foto ini. Indah” ucapku antusias.
“Kamu salah. Foto ini tidak seindah kelihatannya” ringisnya pelan.

Aku memicingkan mata. Orang ini fotografer yang mengambil foto ini atau bukan sih?. Jangan-jangan dia pengunjung juga, sama seperti aku.

Laki-laki itu sepertinya sadar kalau aku mulai menilai macam-macam tentang dia. Dia kembali tertawa tertahan. Aku mulai kesal dibuatnya. Aku hendak beranjak dari spot foto siluet wanita itu, ketika laki-laki itu menegurku.

“Apa?” sergahku sengit.
“Foto ini diambil oleh kakakku” ucapnya singkat.
Aku bingung dibuatnya. Laki-laki itu aneh bukan main. Tiba-tiba saja terbersit dialog khas orang tua kepada anak-anaknya di film-film barat dalam kepalaku. Jangan berbicara dengan orang asing. Aku hampir tergelak sendiri kalau saja aku lupa kalau itu sama sekali tidak sopan.

“ Aku lihat kamu memandangi foto kakakku ini hampir 15 menit. Tanpa berkedip” ujarnya ramah.
“Hah? Masa?Serius?” tanyaku salah tingkah.

“Sudah lihat judul foto kakakku belum?” tanyanya tiba-tiba.

Aku hanya menganggukkan kepala. Judul foto siluet wanita itu memang aneh. Last Time. Aku sempat bertanya-tanya, kenapa foto itu tidak diberi nama “Reading” atau “The girl with her book” atau apalah. Justru Last Time yang dipilih. Aku sudah sempat berspekulasi macam-macam tapi aku menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan yang menurutku terlalu berlebihan. Spekulasiku berujung pada argumen konyol “Last Time itu mungkin lucu menurut si fotografer”.

“Bingung ga sama judulnya?” Tanya laki-laki itu. Dia menunggu jawaban.
Aku kembali mengangguk pelan.

“Itu foto terakhir kakakku. Kamu orang pertama yang yang langsung tertegun selama 15 menit di depan foto kakakku lho” ujar laki-laki itu ramah.

Jika aku perkirakan, pemilik mata hijau itu berjarak 1 meter dari tempatku berdiri. Akan tetapi, aku bisa merasakan sorot mata sedih terpancar jelas dari kedua mata itu. Dia tersenyum lirih kepadaku, mungkin dia sadar aku memperhatikan rona kesedihan yang tergurat di wajahnya.

“Terus kakak kamu dimana? Di pameran ini kah?” aku celingak-celinguk sambil bertanya.
Dia menggeleng. Lalu, dia menunjuk langit-langit gedung pameran.
“Oh, di lantai dua?” Tanyaku polos.
“No, He is already passed away” ucapnya lirih.
“Hah?oh..I’m sorry”. Aku memandang laki-laki itu seksama. Dia kembali memalingkan wajahnya dan sibuk dengan foto siluet wanita itu. Aku benar-benar bingung ingin melakukan apa.

Aku benar-benar tak menduga akan berada dalam pembicaraan secara tak sengaja dan sangat aneh. Mengulas tentang sebuah foto. Lebih tepatnya sejarah foto tersebut.

“Kamu tahu apa yang kakakku suka dari fotografi?” Dia bertanya padaku dengan raut wajah yang tidak dapat aku tebak.

Aku menggeleng.

“ Selembar foto dapat mengabadikan momen-momen penting yang mungkin terlewatkan oleh memori manusia. Ketika kamu memotret, kenangan, nyawa dan perasaan yang dirasakan oleh objek maupun sang fotografer akan terperangkap selamanya di dalam selembar foto yang kamu ambil.”

Aku tertegun. Merinding mendengar penjelasan panjang lebar laki-laki itu. Dia memandangku dengan tatapan ramahnya. Dia hendak pergi ketika aku mencurahkan keberanianku untuk bertanya padanya “ lalu, kenapa kamu datang ke sini? Mendaftarkan foto kakakmu? Apa yang kamu cari disini?” tanyaku penasaran.

Dia memandangku sebentar sambil tersenyum.

“Hanya ingin melihat seseorang sepertimu yang tertegun memandang foto kakakku”. Laki-laki itu lalu pergi menyeruak diantara lautan manusia yang datang ke pameran ini

Aku masih termenung memandang laki-laki itu dan foto siluet wanita itu.
Aku bergegas meninggalkan pameran itu. Sudah cukup penjelajahanku di pameran yang tidak sengaja aku datangi ini.

Diperjalanan pulang di dalam bus yang akan membawaku pulang ke rumah, aku baru sadar aku tidak ingat sama sekali nama fotografer yang mengambil foto siluet wanita tersebut. Begitu pula dengan laki-laki yang berbicara denganku, adik sang fotografer. Biarlah itu jadi misteri dalam hidupku.

Itulah awal mula aku menyukai dunia fotografi, karena selembar foto siluet wanita beserta sejarah foto tersebut.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Nais one, tapi komen panjang gw di YM aja ya

Posting Komentar

 
;