Tempat rahasiaku (Flash), 3 Desember 2007
“Damned it” umpatku.
Rasanya kepala ini berat sekali.Malam ini aku terlalu banyak menenggak Chivas.
Aku sudah setengah sadar.Susah payah aku membawa Viper kesayanganku sampai ketempat rahasiaku.Anti bagiku pulang kerumah dalam keadaan seperti ini.Hanya akan menambah masalah saja.
Rumahku bukan lagi rumah bagiku.Rumah itu sudah seperti neraka bagiku.Tempat rahasiaku ini jauh lebih baik daripada “tempat itu”.
“Ayo, sedikit lagi” ucapku.
Aku berusaha bernapas dengan normal agar banyak oksigen yang bisa sedikit membantu menyegarkan otakku.Aku tertatih dan sedikit demi sedikit aku bisa melihat hamparan rumput berwarna hijau sama rdengan kumpulan bunga Fressia dan Krisan yang juga terlihat samar karena cahaya yang remang-remang.
Baru saja aku hendak menggapai rumput segar favoritku di tempatini, aku sudah dibuat shock olehnya.
Ya, ada seseorang disana.
“Oh, Shit! Gue lagi ancur begini ada orang lagi di tempat favorit gue. Sumpah cari mati aja nih orang” umpatku.
Aku masih berpikir dia pemulung atau semacamnya, dan aku hendak mengusir siluet manusia yang sudah tanpa ijin menempati tempat favoritku.Aku menyeret langkahku agar dapat melihat manusia yang sedang tidur di taman favoritku kemudian mengusirnya. Biar saja dia berpikir aku orang gila yang sedang mabuk.Aku lebih membutuhkan tempat ini daripada dia.
Akan tetapi langkahku terhenti oleh suara dari siluet manusia itu.Suara wanita.Dia mungkin terbangun.Baguslah aku tidak perlu buang-buang tenaga untuk membangunkan wanita itu.Sekarang saatnya mengusir wanita bodoh ini.Akan tetapi wanita itu justru hanya berkulik-kulik seperti kedinginan.Aku samar-samar mendengar dia menangis.Aku dekati wanita itu dengan kesadaran yang hampir mencapai limit.
Suatu tempat di pinggir Jakarta (tempat rahasia kami), awal tahun 2008
Keringat dingin membanjiri kening dan sekujur tubuhku.
Cairan kental berwarna merah dan berbau karat itu masih menetes ringan di lenganku.
Kugenggam silet yang juga terlumuri cairan merah itu.Gemetar.
Kupejamkan mataku.Tangisku pun pecah.
Aku masih memeluk lututku sambil menangis, ketika aku sadar ada seseorang yang tengah berjongkok di depanku.Kuangkat kepalaku sehingga mataku sejajar dengan mata laki-laki yang tengah berjongkok di depanku.
“Loe mau sampai kapan begini terus?” ujarnya ketus.
Kutatap laki-laki itu sengit.“Apa perduli loe?” sambarku kasar.
“Urus aja diri loe!!Ga usah loe sok nyeramahin gue!!Ngurus diri loe aja belom becus!!Loe pikir loe siapa!!”semburku emosi. Kuhapus sisa air mata yang masih mengalir di pipi sambil memalingkan muka.
Laki-laki yang baru saja aku maki justru menatapku serius.Tatapan itu lalu melembut.
Dia mengacak-acak rambutku seenaknya sambil mengeluarkan kantung plastik putih.
Kantung plastik putih itu berisi perban, alkohol, dan betadine.
Dia menarik lenganku dengan paksa dan mulai membersihkan luka di lenganku.
Aku memelototi dia.
“Ga usah sok perhatian deh Flash!!”jeritku.
Aku berusaha menarik lenganku dari genggamannya.
“KECIL!! DIAM GA!! LENGAN LOE LUKA!! MESTI DIOBATIN!! KALO GA BISA INFEKSI!! LOE MAU DIAMPUTASI??”ucap Flash kasar.
Nafasku memburu.Emosiku memuncak.Laki-laki ini, Flash, benar-benar menguji kesabaranku.
Aku terus mendelik menatapnya kesal.
Flash justru tidak perduli dengan sikap defensifku. Dia terus membersihkan lukaku dengan telaten dan hati-hati, seakan lenganku itu kaca yang sangat mudah pecah.
Hanya perlu waktu 5 menit bagi Flash untuk menyelesaikan prakaryanya di lenganku.
Setelah itu, iya duduk bersila di hadapanku.
Aku masih menatap Flash dengan sikap defensifku.
Aku masih marah dengannya.
“Sakit ga Kecil?” tanyanya jail.
Aku hanya diam membisu.Malas sekali meladeni laki-laki setengah gila seperti Flash.
“Ah, ga seru loe.Nyali loe ternyata cumin selutut.Berani nyilet cuman di lengan.Kalo mau cepet mati nyilet disini” ujar Flash sambil menekan lehernya.
“2 menit kemudian loe langsung mokat” ucapnya enteng.
Aku menatapnya sengit.
Flash justru tergelak.
“Baguslah nyali loe cuman selutut.Kalo lebih dari itu dan loe beneran ninggalin gue, gue pasti ikut nyusul loe” timpalnya jail.
“Terserah deh loe Flash.Dasar sinting” umpatku.
“Heh, yang sinting siapa diantara kita berdua??Loe atau gue, kecil?” tanyanya usil.
Aku memalingkan muka sambil menggigit bibir bawahku, Ingin rasanya aku menjerit. Bahkan mencekik Flash sampai mati. Dia benar-benar sinting.Hampir gila aku dibuatnya.
Tiba-tiba saja Flash memegang daguku dan menariknya perlahan hingga wajahku bersitatap dengannya.
“Look at me, Kecil”. Ujar Flash datar.
“Kamu mau terus begini?Kamu ga cape apa? Kamu harus berubah kecil.Sumpah, gue ga sanggup liat kamu kayak gini”.
“Apa perduli loe??Loe juga belom becus ngurus diri loe sendiri.Masih suka mabok, masih suka balapan liar. Terus loe nyeramahin gue dengan segala tetek-bengek “berubah”?loe sadar, kalo loe gak pantes ngomong kayak gitu ke gue, Flash!! Ucapku sarkastis.
Flash justru tersenyum.
“Kalo urusan gue itu beda Kecil. Gue cuman ga mau loe ikutan rusak kayak gue. That’s it” balasnya lembut.
Aku tertawa sarkastis terhadap ucapan Flash.
“Whatever deh Flash” repetku kesal.
“Kecil, gue tau loe marah dengan semua hal yang terjadi disekitar loe saat ini.Loe begini apa bisa loe balikin semua keadaan seperti semula? Ga akan bisa kecil. Loe mesti berhenti nyalahin diri loe.Berhenti nyakitin diri loe.Udah cukup kekonyolan yang loe perbuat.Kalo loe ga mau berubah buat diri loe atau keluarga loe, berubah jadi lebih baik demi gue” tuntut Flash serius.
“Hahaha..emang loe siapa Flash? Sampe gue mesti berubah demi loe??Sahabat gue bukan, keluarga gue juga bukan, pacar juga bukan” tuntutku ketus.
“Terus, sahabat di sekolah loe bisa loe bilang sahabat?? Yang cuman tau masalah keluarga loe tapi ga tau kondisi loe yang lagi sakit parah kayak gini. Sakit jiwa lebih tepatnya.Apa loe yakin sahabat di sekolah loe itu bakal nerima loe dengan kondisi loe yang seperti ini” dengus Flash.
Aku menatapnya terperangah.Ekspresi di wajahku mungkin campuran antara kesal, emosi, sedih, dongkol, frustasi, dan putus asa.
“Guetau ko kalo gue sakit jiwa Flash. Biar aja gue begini Flash.Biar.Gue puas dengan keadaan begini.Gue cape Flash.Semoga dengan begini nyali gue ga selutut lagi dan bisa nebas leher gue sendiri” ratapku.Tangisku mulai pecah.
Flash mengusap air mata yang mengalir di wajahku. Ia menatapku terluka. Sama terlukanya dengan apa yang aku rasakan.
Aku menangis sejadi-jadinya ketika Flash mulai menarikku seperti biasa kepelukannya.
Keringat dingin membanjiri kening dan sekujur tubuhku.
Cairan kental berwarna merah dan berbau karat itu masih menetes ringan di lenganku.
Kugenggam silet yang juga terlumuri cairan merah itu.Gemetar.
Kupejamkan mataku.Tangisku pun pecah.
Aku masih memeluk lututku sambil menangis, ketika aku sadar ada seseorang yang tengah berjongkok di depanku.Kuangkat kepalaku sehingga mataku sejajar dengan mata laki-laki yang tengah berjongkok di depanku.
“Loe mau sampai kapan begini terus?” ujarnya ketus.
Kutatap laki-laki itu sengit.“Apa perduli loe?” sambarku kasar.
“Urus aja diri loe!!Ga usah loe sok nyeramahin gue!!Ngurus diri loe aja belom becus!!Loe pikir loe siapa!!”semburku emosi. Kuhapus sisa air mata yang masih mengalir di pipi sambil memalingkan muka.
Laki-laki yang baru saja aku maki justru menatapku serius.Tatapan itu lalu melembut.
Dia mengacak-acak rambutku seenaknya sambil mengeluarkan kantung plastik putih.
Kantung plastik putih itu berisi perban, alkohol, dan betadine.
Dia menarik lenganku dengan paksa dan mulai membersihkan luka di lenganku.
Aku memelototi dia.
“Ga usah sok perhatian deh Flash!!”jeritku.
Aku berusaha menarik lenganku dari genggamannya.
“KECIL!! DIAM GA!! LENGAN LOE LUKA!! MESTI DIOBATIN!! KALO GA BISA INFEKSI!! LOE MAU DIAMPUTASI??”ucap Flash kasar.
Nafasku memburu.Emosiku memuncak.Laki-laki ini, Flash, benar-benar menguji kesabaranku.
Aku terus mendelik menatapnya kesal.
Flash justru tidak perduli dengan sikap defensifku. Dia terus membersihkan lukaku dengan telaten dan hati-hati, seakan lenganku itu kaca yang sangat mudah pecah.
Hanya perlu waktu 5 menit bagi Flash untuk menyelesaikan prakaryanya di lenganku.
Setelah itu, iya duduk bersila di hadapanku.
Aku masih menatap Flash dengan sikap defensifku.
Aku masih marah dengannya.
“Sakit ga Kecil?” tanyanya jail.
Aku hanya diam membisu.Malas sekali meladeni laki-laki setengah gila seperti Flash.
“Ah, ga seru loe.Nyali loe ternyata cumin selutut.Berani nyilet cuman di lengan.Kalo mau cepet mati nyilet disini” ujar Flash sambil menekan lehernya.
“2 menit kemudian loe langsung mokat” ucapnya enteng.
Aku menatapnya sengit.
Flash justru tergelak.
“Baguslah nyali loe cuman selutut.Kalo lebih dari itu dan loe beneran ninggalin gue, gue pasti ikut nyusul loe” timpalnya jail.
“Terserah deh loe Flash.Dasar sinting” umpatku.
“Heh, yang sinting siapa diantara kita berdua??Loe atau gue, kecil?” tanyanya usil.
Aku memalingkan muka sambil menggigit bibir bawahku, Ingin rasanya aku menjerit. Bahkan mencekik Flash sampai mati. Dia benar-benar sinting.Hampir gila aku dibuatnya.
Tiba-tiba saja Flash memegang daguku dan menariknya perlahan hingga wajahku bersitatap dengannya.
“Look at me, Kecil”. Ujar Flash datar.
“Kamu mau terus begini?Kamu ga cape apa? Kamu harus berubah kecil.Sumpah, gue ga sanggup liat kamu kayak gini”.
“Apa perduli loe??Loe juga belom becus ngurus diri loe sendiri.Masih suka mabok, masih suka balapan liar. Terus loe nyeramahin gue dengan segala tetek-bengek “berubah”?loe sadar, kalo loe gak pantes ngomong kayak gitu ke gue, Flash!! Ucapku sarkastis.
Flash justru tersenyum.
“Kalo urusan gue itu beda Kecil. Gue cuman ga mau loe ikutan rusak kayak gue. That’s it” balasnya lembut.
Aku tertawa sarkastis terhadap ucapan Flash.
“Whatever deh Flash” repetku kesal.
“Kecil, gue tau loe marah dengan semua hal yang terjadi disekitar loe saat ini.Loe begini apa bisa loe balikin semua keadaan seperti semula? Ga akan bisa kecil. Loe mesti berhenti nyalahin diri loe.Berhenti nyakitin diri loe.Udah cukup kekonyolan yang loe perbuat.Kalo loe ga mau berubah buat diri loe atau keluarga loe, berubah jadi lebih baik demi gue” tuntut Flash serius.
“Hahaha..emang loe siapa Flash? Sampe gue mesti berubah demi loe??Sahabat gue bukan, keluarga gue juga bukan, pacar juga bukan” tuntutku ketus.
“Terus, sahabat di sekolah loe bisa loe bilang sahabat?? Yang cuman tau masalah keluarga loe tapi ga tau kondisi loe yang lagi sakit parah kayak gini. Sakit jiwa lebih tepatnya.Apa loe yakin sahabat di sekolah loe itu bakal nerima loe dengan kondisi loe yang seperti ini” dengus Flash.
Aku menatapnya terperangah.Ekspresi di wajahku mungkin campuran antara kesal, emosi, sedih, dongkol, frustasi, dan putus asa.
“Guetau ko kalo gue sakit jiwa Flash. Biar aja gue begini Flash.Biar.Gue puas dengan keadaan begini.Gue cape Flash.Semoga dengan begini nyali gue ga selutut lagi dan bisa nebas leher gue sendiri” ratapku.Tangisku mulai pecah.
Flash mengusap air mata yang mengalir di wajahku. Ia menatapku terluka. Sama terlukanya dengan apa yang aku rasakan.
Aku menangis sejadi-jadinya ketika Flash mulai menarikku seperti biasa kepelukannya.
Langganan:
Komentar (Atom)


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact